Film ini menghentak kesadaran kita bahwa perlawanan terhadap keangkuhan, kepongahan, dan kesewenang-wenangan oligarki tak melulu dilakoni dengan kekerasaan. Ada jalan lain yang damai dan lembut, namun tak kalah menohok. Sang tokoh utama memilih jalan itu; lewat musik, seni, dan suara alam desanya, ia menunjukkan ketegasan sikap para petani Kendeng yang tak mudah takluk pada penindasan.”  [Chairul Akhmad – Jurnalis CNN Indonesia TV]

“The love story of a man who plays music to defend his love is very common. But when what he loves is not a beautiful girl, but the mother earth, our source of life, then this film is very important to watch.”  [Deny Setiawan “Dentje” – Sutradara Iklan]

“Sebuah kontradiktif: berkali-kali pemerintah bercerita soal ketahanan pangan. Tetapi di lapangan, petani terus mendapat tekanan. Bagus adalah kita semua. Kita juga harus kritis melihat penghancuran lingkungan yang terjadi secara masif dan terstruktur. Kita juga harus melawan seperti Bagus dan kawan-kawan.”  [Ressi Dwiana – Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia]

“Jujur pas ending-nya aku terharu… bahagia, lega, lihat ada anak muda tinggal di desa, mau jadi petani (‘gak cari duit ke kota), peduli sama lingkungannya, dan berbuat sesuatu yang nyata untuk memperbaiki nasib anak cucunya. Hari gini anak model gini udah langka sekali. Keren deh si Gus ini!”  [Mila K. Kamil – Writer, Volunteer For The Blind, dan Impact Producer Film Aim For The Stars]

“Film Ibu Bumi saya ibaratkan sebagai lonceng peringatan bagi kita masyarakat Indonesia yang hidup di bawah hegemoni kapitalisme. Tanpa sadar kita telah membiarkan ekonomi pasar menjadi prinsip tunggal pengatur tatanan kehidupan ekonomi kita. Film ini menjadi sebuah gerakan antitesis dari cara pikir eksploitatif terhadap alam demi ekonomi dengan tanpa memedulikan ekosistem lingkungan hidup.”  [Dandy Koswara – Kepala Kantor Berita Anadolu Agency Indonesia]

“Filmnya sederhana, mengulas kegelisahan tokoh muda dari desa yang tersadarkan untuk melindungi bumi dengan mengajak masyarakat untuk ikut tersadarkan lewat musik. Sederhana namun memikat. Mantap.”  [Anwar Sadat – Ketua Ikatan Alumni Manajemen (IAM) FE USU]

“Film yang membuka mata, menjadi semakin nyata kalau masalah yang ada di Kendeng bersifat holistik dan perlu menjadi perhatian semua pihak. Ibu Bumi mendidik kita untuk melihat suatu masalah menggunakan sudut pandang lebih menyeluruh dengan perspektif yang lebih tepat: keberpihakan.”  [Nico Gamalliel – Organis, Koordinator Sospol BEM FKUI 2019]

“Film Ibu Bumi adalah film yang kontemplatif, membangun kesadaran kepada penganut kapitalisme yang rakus tapi ‘ndak pernah mau sadar.”  [Daniel Rudi Haryanto – Sutradara]

“Mengambil sudut pandang anak muda yang penuh energi, kepedulian dan tak tergiur jamaknya urbanisasi, film ini merepresentasikan harapan bahwa perjuangan masyarakat Kendeng tidak akan berhenti hanya pada satu generasi. Film ini juga menunjukkan bahwa perlawanan politik yang digawangi anak muda kreatif tidak kalah bernasnya dengan perlawanan politik di jalur konvensional.”  [Evi Eliyanah – Dosen dan Peneliti di Bidang Kajian Gender dan Budaya Universitas Negeri Malang]

“Film Ibu Bumi yang mengangkat isu lingkungan menjadi  pemantik,  semangat,  dan referensi peraturan pemerintah untuk menghadapi permasalahan serupa yang dihadapi oleh masyarakat NTT saat ini. Saya sangat suka visual foto keluarga yang ditempel di gitar, terkesan ada relasi yang cukup dalam antara keluarga, kesukaan dan perjuangan.  Semoga hal ini bisa menjadi cermin  bagaimana seharusnya masyarakat NTT sadar bahwa ternyata ada perjuangan di luar sana yang tak sia-sia dan terus dilakukan demi kesejahteraan bersama.”  [Adriana Ajeng Ngailu – Mahasiswa Universitas Nusa Cendana dan Programmer Assistant “Jumat Di Garasi” Komunitas Film Kupang]

“Lewat musik yang jauh dari akar tradisinya, Bagus menyuarakan perlawanan atas keserakahan yang membayangi kesederhanaan, mengancam mereka yang merawat bumi dengan bijak. Visualnya bagus, alurnya mengalir.  Rekomendasi film untuk semua anak muda.”  [Dian Yuliastuti – Jurnalis Seni & Budaya Koran Tempo]

“Film Ibu Bumi memberikan gambaran ada banyak cara untuk ikut turun tangan menjaga kelestarian lingkungan, sebagian orang berdiskusi, sebagian orang turun ke jalan untuk berdemonstrasi, sebagian lainnya melakukan dari pentas ke pentas melalui jalur kesenian. Seperti cahaya lilin, semakin banyak yang menyala maka akan semakin terang, pada akhirnya yang terpenting adalah menjaga lilin – lilin itu tetap menyala untuk bumi yang lestari.”   [Kaka Prakasa – Redaksi Majalah Forest Digest]

“Film ini mengingatkan kita bahwa masalah lingkungan hidup adalah masalah kita sehari-hari. Tidak ada air bersih, polusi udara, kebisingan, para ibu rumah tangga selalu menghadapi persoalan seperti ini. Seperti Bagus yang mampu menyalurkan suaranya melalui musik, saya pun memikirkan bagaimana para ibu rumah tangga dapat menemukan cara unik mereka untuk bersuara.  [Duma Yanti Theresia – Ibu Rumah Tangga]

“Film dokumenter yang bagus tentang semangat anak muda yang mengkritik dengan karya! Salah satu film pendek dokumenter penting yang rilis tahun ini. WAJIB TONTON!”  [Rendro Aryo — Sutradara]

“Alur dalam film ini mengalir, sederhana tapi begitu mengena. Menggambarkan perenungan kegelisahan seorang anak muda terhadap masa depan kampung halamannya. Karakter utamanya, dengan keluguan alaminya berhasil mengetuk hati kita, berpikir tentang bumi dan sekitar kita.  [Eka Dalanta – Penulis dan Penggiat Literasi]

 

“Filmnya bikin merinding. Sejatinya musuh kita hari ini adalah senyatanya industrialisasi yang tidak berpihak kepada lingkungan. Industrialisasi yang terus menciptakan manusia menjadi robot-robot yang dikendalikan. Save Kendeng. Semoga para pejuang-pejuang Kendeng bersama berkahnya surat Al Fatihah.. Nuhun filmnya. Bagus dan indah.” [Huluful Fahmi – Ketua Cilegon Corporate Social Responsibility dan Pendiri Rumah Peradaban Banten]

 

“Film Ibu Bumi… Reflection.. It’s make me crying. Kesadaran akan lingkungan bukan sekadar membuang sampah pada tempatnya atau reuse, recycle, reduce.. tapi bagaimana perilaku kita terhadap alam itu sendiri. Kebijakan dan keberpihakan serta keadilan bagi kita dan alam semesta ciptaan-Nya. Alam dan dunia yang harus kita renungkan lagi.”  [Emy Handayani – Konsultan Arsitektur]